+ -

Pages

Sabtu, 22 Januari 2011

Tentang cita-citaku..

Sewaktu SD, aku ingin sekali menjadi Guru. Menurutku, Guru adalah sosok yang pintar dan berpendidikan tinggi. Jika aku menjadi Guru, aku akan jadi orang yang berguna untuk orang banyak, Begitu menurutku. Waktu itu aku juga sempat bingung, karena waktu itu aku juga bercita-cita menjadi Dokter. Mengalahkan orangtuaku yang hanya seorang Perawat. Dan Dokter juga sosok yang sangat dibutuhkan orang banyak. Lalu aku tanyakan pada teman temanku, ingin jadi apa mereka nanti? mereka kebanyakan memilih untuk jadi Dokter (walaupun ada beberapa temankku yang bercita cita menjadi seorang Pilot dan Polisi). kemudian aku putuskan untuk menjadi seorang Guru saja, toh teman-temanku nantinya akan menjadi Dokter. Kalo aku juga ikutan jadi Dokter, akan ada banyak dokter nantinya dan tidak ada yang menjadi guru, pikirku.

Selain cita cita ku yang ingin menjadi Guru. Dulu (bahkan sampai sekarang) Aku ingin sekali menjadi Penulis, aku iri pada Penulis, aku iri dengan setiap tulisan yang ia buat. Seorang Penulis terlihat cerdas tanpa harus mengeluarkan suara. ia bisa membuat kita mengerti apa yang ingin disampaikannya dengan rangkaian kalimat indah yang mereka tulis 

Aku juga ingin menjadi Musisi. Dengan musik mereka bisa menghibur orang banyak, dan yang terpenting bisa menghibur diri mereka sendiri disaat mereka sedih atau sedang menghadapi masalah. Setidaknya musik bisa membuat mereka sedikit lebih tenang. Waktu SMP aku pernah belajar bermain gitar, tetapi Ibu tak menyukainya. Katanya gitar itu hanya untuk anak laki laki saja. akupun berhenti belajar bermain gitar.

Selain itu aku juga ingin jadi Fotografer, aku menyukai Photograpy. Mereka bisa mengabadikan waktu, mengabadikan moment moment yang kadang sering terlupakan. Sehingga suatu saat kita ingin mengingat lagi, mereka tinggal melihat gambar dulu pernah di ambilnya. Selain itu juga merasa ada kepuasan tersendiri disaat bisa mengabadikan gambar secara sempurna dan dengan angle yang pas pula. Sehingga tidak bosan untuk dilihat. Dikampusku yang sekarang, aku ikut ukm yang berbasic fotografi dan perfilman, serta entertainment dan enterpreneur. Cinematografi namanya, aku sadar bahwa nanti bukan hanya pendidikan formal lah yang membuatku bertahan dan eksis di kalangan masyarakat, tetapi kita juga butuh soft skill untuk bekal masa depan kita nanti. Mungkin saja, misalkan nanti, aku tidak berhasil menjadi guru, aku punya kemampuan untuk menjadi seorang entertain ataupun enterpreneur.

Aku juga pernah ingin jadi Pelatih Basket. Waktu SMP aku pernah ikut ekskul basket disekolahku, aku bangga bisa bermain basket, aku bangga saat aku bisa memasukkan bola ke dalam ring dan mendapatkan poin. Sayang sekali ibuku juga tak menyukainya, ibuku bilang bermain basket bisa membuat kulitku hitam dan membuat tubuhku lelah. sebaiknya aku dirumah saja, begitu katanya.

Sewaktu kelas satu SMA, aku ingin jadi perawat. Perawat di sebuah rumah sakit jiwa. Yaaaa, menurutku itu sangat menyenangkan. Disana aku akan mendapat hiburan Cuma Cuma tiap hari, melihat tingkah aneh pasien. Aku rasa aku akan awet muda apabila bekerja disana. Tapi, untuk masuk kedunia kesehatan aku harus mengambil jurusan IPA di sma, yang (sumpah demi apa) aku sama sekali tidak mengerti pelajarannya. Aku benci berhitung dengan campuran huruf dan angka yang sama sekali tidak akan bisa dijumlahkan dengan cara biasa. Aku tidak suka sesuatu yang rumit dan membuatku pusing sendiri. Dan waktu itu aku lebih memilih jurusan ips (waktu itu jurusan bahasa ditutp karena peminatnya sedikit) karena aku rasa aku tidak akan terbebani dengan pelajaran yang lebih mengandalkan logika, nalar dan menghafal itu.

Dan dikelas 3 sma, aku memutuskan. Aku akan menjadi seorang psikolog. Menyenangkan sekali rasanya bisa membantu seseorang menyelesaikan masalahnya. Menyenangkan sekali rasanya kuliah tanpa harus berhubungan dengan hitung-hitungan. Selesai UAN, aku mulai menyiapkan diri untuk mengikuti UMB-PTN. Aku mengambil fakultas psikologi di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Tetapi ternyata di beberapa Perguruan Tinggi Negeri, Fakultas Psikologi mengambil mahasiswa baru dari jurusan IPA. Ah, menyesal sekali kenapa tidak dari dulu aku cari tau tentang ini. Tapi aku tidak menyerah begitu saja tentunya. Aku ambil saja Ipc sewaktu UMB nanti, dengan begitu aku bisa mengambil dari jurusan Ipa dan Ips sekaligus. Aku ikut bimbel di Ganesha Operation selama kurang lebih 3 bulan. Pada saat itu, GO telanai (dekat rumahku) kelasnya suda penuh, terpaksa aku mengambil kelas di GO thehok (sekitar 20 menit dari rumahku, tanpa macet). Dan hanya ada kelas pagi. Ah, menderita sekali rasanya. Di tambah lagi otakku yang susah sekali menerima pelajaran kimia dan fisika, beda dengan bilologi yang aku agak sedikit faham daripada dua pelajaran tadi. Selesai bimbel, aku tinggal menunggu kapan UMB. Aku optimis bisa lulus di pilihan pertamaku, atau paling tidak aku lulus di pilihan kedua (sama sama psikologi tapi beda PTN). Oh iya, plihan ketiga, aku memilih mengambil Fkip Ekonomi. Jadi, seandainya nanti aku tidak lulus pada pilihan pertama dan kedua, aku masih bisa kuliah di perguruan tinggi negeri dan menurutku fakultas keguruan ini sangat menjanjikan untukku. Pada saat waktu pengumuman Umb, dengan tidak sabar aku segera melihat pengumuman umb tersebut di situs umb.ac.id. tak sabar melihat hasil ujianku. Dan hasilnya.. aku lulus pada pilihan ketiga! FKIP EKONOMI . dan (lagi).. pupuslah harapanku menjadi seorang psikologi.

Sampai sekarang, aku belum tau mau jadi apa aku sebenarnya. Aku sudah lama belajar menulis, tapi tetap saja menurutku tulisanku tidak menarik seperti tulisan mereka. Aku juga ingin belajar bermain gitar lagi, tapi karena aku tidak bisa bermain gitar secara normal (aku hanya bisa menggunakan tangan kiri), jadi belum ada yang bisa mengajarkanku bermain gitar. Kenapa tidak les musik saja? sempat berpikir begitu, tapi uang saku yang dikirim orangtuaku hanya cukup untuk uang jajan dan makan serta perlengkapan pribadiku saja. misalkan aku minta uang lebih untuk ikut les musik, aku tidak yakin akan diberi izin. Karena, dari awal mereka sudah tidak setuju. Dan denga uang pas-pasan itu, aku mencoba menabung untuk membeli sebuah kamera. Sulit sekali rasanya menabung, karena aku tipe cewek boros yang tidak bisa menahan selera. Aku pernah bilang pada orangtuaku bahwa aku ingin membeli kamera. Mereka bilang, nanti saja apabila sudah benar benar diperlukan, misalnya nanti sewaktu aku KKN atau sudah mulai menyusun skripsi. Ah, lama sekali. Dan aku pikir memang tidak seharusnya memyusahkan mereka. Karena saat ini kamera masih diluar keperluan kuliahku.

Bagaimana dengan basket? Aku rasa ini sudah tidak mungkin lagi, sekarang aku mahasiswi di FKIP Ekonomi di sebuah perguruan tinggi negeri di sebuah kota di sumatera. Tidak ada lagi kesempatan untukku untuk mndalami basket dan menjadi pelatih basket. Dulu, pernah terlintas di pikiranku ingin masuk Porkes saja. tetapi, tinggi badanku tidak mencukupi dan tubuhku yang tidak tahan banting. Aku membuang jauh jauh pikiranku itu dan lebh memilih ekonomi. Karena disitu aku bisa belajar ekonomi secara lebih detail dan menyeluruh daripada di fakultas ekonomi saja ( tentu, karena aku ditempa untuk menjadi seorang guru yang harus tau segala hal yang berbau ekonomi). Lulus dengan menyandang gelar S.Pd, aku menjadi seorang guru di sebuah Sma (entah dimana aku akan mengajar nanti), aku juga bisa menjadi enterpreneur seperti ayahku dan mungkin bisa saja aku bekerja di kantor pajak (andai saja nilai akuntansiku tidak C+ seperti sekarang).

Dan seharusnya aku sadar, aku tak perlu bingung nanti aku akan menjadi apa, bagaimana dan dimana. Malah menimbulkan kesan bahwa aku orang yang plin-plan dan tidak jelas. Ayahku bilang, dimanapun seseorang mengenyam pendidikan, apabila ia menjalaninya dengan serius, akan membuahkan hasil yang baik. Beliau juga pernah bilang, orang pintar tidak akan pernah bingung kemana dia akan melangkah karena dimanapun dia berada, dia akan dibutuhkan oleh banyak orang :)
5 Catatan...: Tentang cita-citaku.. Sewaktu SD, aku ingin sekali menjadi Guru. Menurutku, Guru adalah sosok yang pintar dan berpendidikan tinggi. Jika aku menjadi Guru, aku a...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >