+ -

Pages

Kamis, 14 Februari 2013






sepuluh lewat sepuluh malam,

untuk kesekian kalinya saya menangis tersedu sedan sejadi jadinya dan kemudian memutuskan untuk menenangkan hati, berbicara via telpon dengan Ayah. saya menangis sejadi jadinya sampai lelah, terkulai. mengeluarkan semua penat, rasa takut, sepi,serentak dengan tetesan air mata yang senantiasa menyusul datang disaat kesal bersarang.

jelas, cuma saya yang tau bagaimana sebenarnya jiwa saya yang separuhnya sakit, otak saya yang seperempatnya rusak, dan tidak bisa dipulihkan seperti 14 tahun yang lalu. tapi setidaknya dengan bantuan Ayah, walaupun tak secara nyata berada disamping saya dan mengelus pundak saya agar tahu caranya ikhlas, saya bisa merasakan tiap harinya bisa membaik walaupun tidak seperti semula. 

sakit jiwa saya ini. tumbuh dewasa dengan sendirinya, yang setiap bangun tidur sedari kecil hanya bertemu benda mati. tidak tercicip lagi 14 tahun lamanya sapaan lembut ibu di pagi hari membangunkan tidur. tak tercicip lagi rambut yang disisir oleh ayah, kemudian didampingi menuju sekolah. tak tercicip lagi kesalnya di permainkan adik kandung semata wayang yang sudah berpulang.

saya tau. tidak ada gunanya memang terus terusan menyalahkan masalalu. saya tau, tenang saja saya tidak akan menyalahkanya, walaupun sebenarnya hati saya bilang begitu.



5 Catatan... sepuluh lewat sepuluh malam, untuk kesekian kalinya saya menangis tersedu sedan sejadi jadinya dan kemudian memutuskan untuk men...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >